REF MAT 3B-22 (erlita sari)
Kata filsafat atau falsafat, berasal dari bahasa Yunani.
Kalimat ini berasal dari kata Philosophia yang berarti cinta pengetahuan.
Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, suka,
dan kata sophia berarti pengetahuan, hikmah, dan
kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan
atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Filsafat
sering pula diartikan sebagai pandangan hidup.
Plato
(428 - 348 SM) mengatakan bahwa filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang
segala yang ada. Sedangkan Johann Gotlich Fickte (1762 - 1814) mengartikan
bahwa filsafat sebagai Wissenschaftslehre
(ilmu dari ilmu-ilmu, yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu). Ilmu
membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan
seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.
Dari semua pengertian filsafat secara terminologis di atas, dapat ditegaskan
bahwa filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam
dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi
tersebut.
Filsafat memiliki fungsi yang penting bagi manusia.
Diantaranya, sebagai
alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada, memberikan pengertian
tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia, memberikan ajaran
tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan, menjadi sumber inspirasi
dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti
ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Jadi, fungsi filsafat ilmu adalah untuk
memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu
disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah.
Dari
pelajaran filsafat kita diharapkan menjadi orang yang dapat berpikir sendiri, memberikan
dasar-dasar pengetahuan kita, memberikan padangan yang sintesis pula sehingga
seluruh pengetahuan kita merupakan kesatuan, hidup kita dipimpin oleh
pengetahuan kita. Selain itu, sebagai
sarana bagi manusia untuk dapat memecahkan berbagai problematika kehidupan yang
dihadapinya, termasuk problematika dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu
bila dihubungkan dengan problematika pendidikan secara luas, maka dapat
disimpulkan bahwa filsafat merupakan kerangka acuan bidang filsafat pendidikan,
guna mewujudkan cita-cita pendidikan yang diharapkan suatu masyarakat atau
bangsa.
Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari
peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita
dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan
yang melembaga di dalam masyarakatnya. Oleh
karena itu, filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab,
pendidikan sendiri pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai
filsafat, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk menjadi
kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya. Filsafat
pendidikan menjadi dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan
berkelakuan yang menentukan bentuk sikap hidupnya. Adapun proses pendidikan
dilakukan secara terus menerus dilakukan dari generasi ke generasi secara sadar
dan penuh keinsafan.
Idealisme
adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang berpaham bahwa pengetahuan
dan kebenaran tertinggi adalah ide. Tokoh aliran idealisme adalah Plato
(427-374 SM), murid Sokrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu
filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang
semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita)
dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa
dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang
serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau
tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak
dikategorikan idea.
Idealisme
mempunyai pendirian bahwa kenyataan itu terdiri dari atau tersusun atas
substansi sebagaimana gagasan-gagasan atau ide-ide. Alam fisik ini tergantung
dari jiwa universal atau Tuhan, yang berarti pula bahwa alam adalah ekspresi
dari jiwa tersebut.
Keberadaan
idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat
dipotret oleh jiwa murni. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat
murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak,
tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan
dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak
bertubuh yang dikatakan dunia idea.
Idealisme
menekankan pada realitas ide-gagasan, pemikiran, akal-pikir atau kedirian
daripada sebagai suatu penekanan pada objek-objek & daya-daya material.
Idealisme menekankan akal pikir (mind) sebagai hal dasar atau lebih dulu ada
bagi materi, & bahkan menganggap bahwa akal pikir adalah sesuatu yang
nyata, sedangkan materi adalah akibat yang ditimbulkan oleh akal-pikir atau
jiwa (mind).
Inti yang terpenting dari ajaran ini
adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi
dibandingkan dengan materi bagi kehidupan manusia. Roh itu pada dasarnya
dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut
sebagai penjelmaan dari roh atau sukma. Aliran idealisme berusaha menerangkan
secara alami pikiran yang keadaannya secara metafisis yang baru berupa
gerakan-gerakan rohaniah dan dimensi gerakan tersebut untuk menemukan hakikat
yang mutlak dan murni pada kehidupan manusia. Demikian juga hasil adaptasi
individu dengan individu lainnya. Maka apabila kita menganalisa berbagai macam
pendapat tentang isi aliran idealisme, yang pada dasarnya membicarakan tentang
alam pikiran rohani yang berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita, di mana
manusia berpikir bahwa sumber pengetahuan terletak pada kenyataan rohani
sehingga kepuasaan hanya bisa dicapai dan dirasakan dengan memiliki nilai-nilai
kerohanian yang dalam idealisme disebut dengan idea.
Aliran idealisme terbukti cukup banyak berpengaruh dalam dunia
pendidikan. William T. Harris adalah salah satu tokoh aliran pendidikan
idealisme yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat. Idealisme terpusat
tentang keberadaan sekolah. Pendidikan harus terus eksis
sebagai lembaga untuk proses pemasyarakatan manusia sebagai kebutuhan
spiritual, dan tidak sekedar kebutuhan alam semata.
Bagi aliran idealisme, peserta didik merupakan pribadi tersendiri, sebagai
makhluk spiritual. Guru yang menganut paham idealisme
biasanya berkeyakinan bahwa spiritual merupakan suatu kenyataan, mereka tidak
melihat murid sebagai apa adanya, tanpa adanya spiritual. Sejak idealisme
sebagai aliran filsafat pendidikan menjadi keyakinan bahwa realitas adalah
pribadi, maka mulai saat itu dipahami tentang perlunya pengajaran secara
individual. Pola pendidikan yang diajarkan filsafat idealisme berpusat dari
idealisme. Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat dari anak atau materi
pelajaran, juga bukan masyarakat tapi idealisme. Maka tujuan pendidikan menurut aliran
idealisme terbagi atas tiga hal, tujuan untuk individual, masyarakat, dan
campuran antara keduanya.
Pendidikan idealisme untuk individual antara lain bertujuan agar anak didik
bisa menjadi kaya dan memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian yang harmonis, dan pada akhirnya
diharapkan mampu membantu individu lainnya untuk hidup lebih baik. Sedangkan
tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan
antar manusia. Sedangkan tujuan secara sintesis dimaksudkan sebagai gabungan
antara tujuan individual dengan sosial sekaligus, yang juga terekspresikan
dalam kehidupan yang berkaitan dengan Tuhan.
Guru dalam sistem pengajaran menurut aliran idealisme berfungsi sebagai :
a.
Guru adalah personifikasi dari kenyataan anak didik. Artinya, guru merupakan wahana atau
fasilitator yang akan mengantarkan anak didik dalam mengenal dunianya lewat
materi-materi dalam aktifitas pembelajaran. Untuk itu, penting bagi guru
memahami kondisi peserta didik dari berbagai sudut, baik mental, fisik, tingkat
kecerdasan dan lain sebagainya.
b.
Guru harus seorang spesialis dalam suatu ilmu pengetahuan
dari siswa. Artinya,
seorang guru itu harus mempunyai pengetahuan yang lebih dari pada anak didik.
c.
Guru haruslah menguasai teknik mengajar secara baik. Artinya, seorang guru harus mempunyai
potensi pedagogik yaitu kemampuan untuk mengembangkan suatu model pembelajaran,
baik dari segi materi dan yang lainnya.
d.
Guru haruslah menjadi pribadi yang baik, sehingga
disegani oleh murid. Artinya, seorang guru harus mempunyai potensi kepribadian
yaitu karakter dan kewibawaan yang berbeda dengan guru yang lain.
e.
Guru menjadi teman dari para muridnya. Artinya, seorang guru harus mempunyai
potensi sosial yaitu kemampuan dalam hal berinteraksi dengan anak didik.
f.
Guru harus menjadi pribadi yang mampu membangkitkan
gairah murid untuk belajar.
g.
Guru harus bisa menjadi idola para siswa.
h.
Guru harus rajin beribadah, sehingga menjadi insan
kamil yang bisa menjadi teladan para siswanya
i.
Guru harus menjadi pribadi yang komunikatif.
j.
Guru harus mampu mengapresiasi terhadap subjek yang menjadi
bahan ajar yang diajarkannya.
k.
Tidak hanya murid, guru pun harus ikut belajar
sebagaimana para siswa belajar
l.
Guru harus merasa bahagia jika anak muridnya berhasil.
m.
Guru haruslah bersikap dmokratis dan mengembangkan
demokrasi.
n.
Guru harus mampu belajar, bagaimana pun keadaannya.
Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang beraliran
idealisme harus lebih memfokuskan pada isi yang objektif. Pengalaman haruslah
lebih banyak daripada pengajaran yang textbook. Agar pengetahuan
dan pengalamannya aktual.
Sedangkan implikasi Aliran Idealisme dalam
Pendidikan yaitu :
a.
Tujuan, untuk membentuk karakter, mengembangkan bakat
atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial.
b.
Kurikulum, pendidikan liberal untuk pengembangan
kemampuan dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan.
c.
Metode, diutamakan metode dialektika (saling mengaitkan ilmu
yang satu dengan yang lain), tetapi metode lain yang efektif dapat
dimanfaatkan.
d.
Peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian,
bakat dan kemampuan dasarnya.
e.
Pendidik bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan
pendidikan melalui kerja sama dengan alam.
Implementasi
Idealisme dalam Pendidikan:
a.
Pendidikan bukan hanya mengembangkan dan menumbuhkan,
tetapi juga harus menuju pada tujuan yaitu dimana nilai telah direalisasikan ke
dalam bentuk yang kekal dan tak terbatas.
b.
Pendidikan adalah proses melatih pikiran, ingatan,
perasaan. Baik untuk memahami realita, nilai-nilai, kebenaran, maupun sebagai
warisan sosial.
c.
Tujuan pendidikan adalah menjaga keunggulan kultural,
sosial dan spiritual. Memperkenalkan
suatu spirit intelektual guna membangun masyarakat yang ideal.
d.
Pendidikan idealisme berusaha agar
seseorang dapat mencapai nilai-nilai dan ide-ide yang diperlukan oleh semua
manusia secara bersama-sama.
e.
Tujuan pendidikan idealisme adalah ketepatan mutlak.
Untuk itu, kurikulum seyogyanya bersifat tetap dan tidak menerima perkembangan.
f.
Peranan pendidik menurut aliran ini adalah memenuhi akal
peserta didik dengan hakekat-hakekat dan pengetahuan yang tepat. Dengan kata
lain, guru harus menyiapkan situasi dan kondisi yang kondusif untuk mendidik
anak didik, serta lingkungan yang ideal bagi perkembangan mereka, kemudian
membimbing mereka dengan kasih sayang dan dengan ide-ide yang dipelajarinya
hingga sampai ke tingkat yang setinggi-tingginya.